August 12, 2005

MAINAN EDUKATIF : KENAPA JUGA MESTI YANG MAHAL ?

Sebagai orangtua, kita pasti ingin melakukan apa saja untuk mencerdaskan anak. Mulai dari susu formula yang diperkaya dengan AA dan DHA (dimana susu fortified seperti ini tak kan pernah bisa mengalahkan ASI) sampai berbagai mainan edukatif. Sayangnya untuk mainan edukatif ini, harganya cukup mahal. Sebut saja merk Sassy, Lamaze, Fiesher Price, dll. Tahukah kita, segala hal yang dapat mencerdaskan anak sebenarnya tidak perlu yang serba mahal ? Karena proses pembelajaran seorang anak adalah melalui pengalaman dan eksplorasi yang dilakukannya. Semua alat penunjangnya tersedia di sekeliling kita, tinggal dimanfaatkan. So, kalau ada yang murah, kenapa juga mesti yang mahal?

 

Ada 2 buah buku yang memandu kita, bagaimana menciptakan mainan edukatif. Dengan mainan ini, kita dapat melakukan permainan cerdas bersama bayi ataupun balita kita, dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Misalnya di buku karangan June R Oberlander yang berjudul SLOW AND STEADY GET ME READY, ada salah satu permainan yang mengajarkan bayi akan pengertian halus dan kasar. Mau tahu apa alat yang digunakan ? Hanya amplas, kapas dan kotak stereofoam! Murah dan pasti tersedia di rumah J Sementara Jackie Silberg dalam bukunya yang berjudul 125 Brain Games for Toddlers (tersedia juga dalam versi FOR BABIES), menciptakan berbagai ide permainan cerdas yang tak kalah serunya!

 

Coba koleksi bukunya dan biarkan si Kecil tumbuh cerdas tanpa mengganggu budget bulanan Anda !

 

 

Posted by Alya\'s Mom at 11:43:00 | Permanent Link | Comments (14) |

June 24, 2005

RADANG TENGGOROKAN

Pernah pusing kepala karena anak kita demam, lesu, tidak mau makan, dan mengeluh sakit waktu menelan? Apalagi gejalanya ditambah dengan rewel, hidung mampet atau justru tidak berhenti meler, dan nyeri di telinganya! Rasanya ingin ada obat ajaib yang bisa membuat anak sembuh dalam sekejap. Simsalabim! Wah tunggu dulu...

Mungkin hampir seluruh orang tua pernah pergi ke dokter dan anaknya didiagnosis radang tenggorokan dengan gejala tersebut diatas. Mungkin kemudian kita pulang dengan sederet obat atau. mungkin juga tidak. ]adi sebenarnya, apa sin yang periu kita waspadai tentang radang tenggorokan yang terkenal ini?

Sekelumit Fakta Tentangnya...

Anak bisa sangat sering terserang infeksi saluran napas atas, termasuk radang tenggorokan dan ternyata sekitar 90% dari kasus radang tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga disebabkan oleh virus! Bakteri menjadi penyebab dari 10% kasus sisanya. Karena hampir seluruh kasus disebabkan oleh virus, maka antibiotik biasanya tidak diperlukan. Infeksi oleh virus (misalnya: batuk-pilek, radang tenggorokan) sama sekali tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, tubuh akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh. Penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan karena akan membuat anak menjadi resisten dan antibiotik menjadi tidak mempan untuk melawan infeksi saat dibutuhkan. Jadi, mari kita simpan antibiotik ini untuk "perang" yang lebih hebat bila diperlukan. Save the best for last, istilahnya.

Pada 10% kasus sisanya bakteri penyebab radang tenggorokan tersering adalah Streptokokus. Gejala infeksi bakteri ini adalah tenggorokan yang berwarna merah daging dan tonsil yang mengeluarkan cairan. Untuk mendiagnosis bakteri ini sebagai penyebab secara past! adalah dengan melakukan usap tenggorok untuk kemudian dikultur serta dilakukan pemeriksaan darah. Hanya untuk kasus yang disebabkan bakteri saja antibiotik diperlukan.

Bila anak menjadi gelisah, rewel, sulit tidur, lemah, atau lesu karena gejala radang tenggorokan ini, kita dapat membantu meredakan gejalanya. Tidak harus selalu dengan obat, mungkin dengan tindakan yang mudah dan sederhana bisa membantu menenangkan anak:

Nyeri menelan: banyak minum air hangat, obat kumur, lozenges, parasetamol untuk meredakan nyeri.

Demam : banyak minum, parasetamol, kompres hangat atau seka tubuh dengan air hangat.

Hidung tersumbat dan berair (meler): banyak minum hangat, anak diuap dengan baskom air hangat, tetes hidung NaCI.

]angan terlalu cemas bila anak tidak langsung sembuh dalam 1 atau 2 hari, karena dalam beberapa kasus, radang tenggorokan karena virus baru sembuh setelah 2 minggu. Yang diperlukan adalah kesabaran dan pengawasan orang tua terhadap gejala anak. Bawalah anak ke dokter bila gejala terlihat makin berat; anak tampak sulit bernapas, kebiruan pada bibir dan/atau kuku, anak tampak gelisah atau justru sangat mengantuk, atau anak batuk/demam berkepanjangan.

Selamat menjadi Smart Parent!

Sumber:

1.                1 .Bernan S, Johnson C, Chan K, Kelley P. Ear, Nose, and Throat, in Current Pediatric and Treatment. 15th ed. Hay WW, Hayward AR, Levin M], Sondheimer JM (ed). New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill, 2001. p 419-20.

2.       Using Antibiotic Sensibly. http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=FL00075

3.       Antibiotic: When They Can and Can't Help. American Family Physician, http://www.familydoctor.org.

4.       Sore Throat And Fever: Average Number in Children? http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id = HQ00291

pesat3 : Masalah-Masalah Kesehatan Umum  Pada Anak oleh dr Purnamawati S Pujiarto SpAK.MMPed

 

Posted by Alya\'s Mom at 08:29:00 | Permanent Link | Comments (5) |

BATUK PADA ANAK

Batuk merupakan salah satu gejala yang paling sering ditemukan pada anak, dan merupakan keluhan yang seringkali menyebabkan orang tua membawa anak mereka ke dokter.

Batuk merupakan gejala dari sebagian besar infeksi pernapasan. Infeksi pernapasan meliputi:

Infeksi pernapasan atas, seperti pilek (dikenal juga sebagai common colds, hidung beringus, nasofaringitis akut atau faringorinitis akut.)

Infeksi pernapasan bawah, seperti pneumonia, bronkitis, bronkiolitis.

Kadang-kadang batuk terdengar hebat. Namun demikian, biasanya batuk bukan merupakan gejala yang membahayakan. Sebenarnya batuk merupakan suatu refleks tubuh untuk membantu membersihkan jalan napas. Namun demikian, batuk dapat menjadi alasan untuk berkunjung ke dokter. Kita perlu mengenal jenis-jenis batuk, agar kita tahu bagaimana menanganinya dan mengetahui pula kapan sebaiknya kita meminta bantuan medis.

Jenis-jenis batuk dan Apa Maknanya

•    Batuk "Menggonggong"

Batuk seperti ini biasanya disebabkan oleh croup, yaitu suatu peradangan pada larings dan trakea yang dicetuskan oleh alergi, perubahan suhu di malam hari, atau yang paling sering adalah infeksi pernapasan atas akibat virus. Pada anak kecil, saluran napas yang kecil akan semakin menyempit ketika mengalami peradangan. Pita suara pun akan membengkak sehingga anak mengalami kesulitan bernapas. Anak usia kurang dari 3 tahun paling sering menderita croup. Croup dapat muncul mendadak di tengah malam, sehingga orang tua pun khawatir. Walaupun kebanyakan kasus dapat ditangani di rumah, apabila anak dicurigai mengalami croup, hubungilah dokter untuk mendiskusikan kondisinya.

•    Batuk Rejan (" Whooping Cough)

Bunyi "whoop" adalah bunyi yang terjadi setelah batuk, yaitu pada saat anak tersebut berusaha menarik napas dalam setelah batuk terus-menerus selama berberapa kali. Jika anak mengeluarkan bunyi "whoop" (yang terdengar seperti "hoop") setelah batuk terus-menerus sebanyak beberapa kali, kemungkinan besar ada gejala pertusis (batuk rejan) -terutama jika anak anda belum menerima vaksinasi difteri/tetanus/pertusis (DTP/DTaP).

Di lain pihak, bayi yang menderita pertusis biasanya tidak mengeluarkan bunyi "whoop" setelah episode batuk yang panjang, tetapi bayi seperti ini dapat kekurangan oksigen atau bahkan berhenti napas karena penyakit ini. Pada bayi dan anak yang masih sangat kecil, pertusis dapat mematikan. Oleh karena itu, segera hubungi dokter.

•    Batuk dengan Mengi

Batuk yang disertai bunyi mengi saat anak mengeluarkan udara napas, ini mungkin menandakan adanya suatu "sumbatan" di jalan napas bawah. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh pembengkakan akibat infeksi pernapasan (seperti bronkiolitis atau pneumonia), asma, atau akibat adanya suatu yang tersangkut di jalan napas. Pada keadaan seperti ini, hubungilah dokter, kecuali kalau anak anda sudah sering mengalami masalah ini dan anda telah mempunyai obat, seperti inhaler atau nebulizer, disertai dengan petunjuk penggunaan obat tersebut untuk menangani asma di rumah. Apabila anak tidak membaik dengan pengobatan tersebut, hubungi dokter.

•    Stridor

Berbeda dengan mengi, stridor merupakan suara napas yang berisik dan kasar yang terdengar pada saat anak menghirup napas. Jika terdengar stridor, segera hubungi dokter.

Stridor, paling sering disebabkan oleh pembengkakan di jalan napas atas, biasanya akibat croup karena virus. Namun, kadang-kadang dapat juga timbul akibat adanya benda asing yang menyumbat jalan napas atau akibat infeksi yang lebih berat yaitu epiglotitis. Epiglotitis rnerupakan keadaan yang mengancam jiwa, dimana epiglotis mengalami pembengkakan dan menutupi aliran udara ke paru. Penyebab pembengkakan epiglotis yang paling sering adalah adalah infeksi bakteri Haemophilus influenzae tipe B (Hib). Namun, epiglotitis dapat juga timbul karena penyebab lain seperti luka bakar karena air panas, cedera di tenggorokan, dan berbagai infeksi virus dan bakteri.

•Batuk Mendadak

jika anak batuk secara tiba-tiba, mungkin anak tersedak makanan atau minuman masuk "jalur yang salah" yaitu ke saluran napas atau ada sesuatu (misalnya potongan makanan, muntahan, atau mungkin mainan atau uang logam) yang tersangkut di tenggorokannya atau jalan napasnya. Batuk membantu membersihkan dan membebaskan jalan napas dari sumbatan tersebut.

Batuk dapat berlangsung hingga semenit atau hanya sebentar saja diakibatkan tenggorokan atau jalan napasnya teriritasi. Akan tetapi, jika batuk tidak kinjung reda atau justru menjadi sulit bernapas, hubungi dokter. Jangan coba-coba membersihkan tenggorokannya dengan jari anda karena tindakan ini justru dapat mendorong sumbatan yang ada semakin jauh ke bawah ke pipa udara.

•    Batuk Malam Hari

Banyak batuk yang memburuk pada malam hari. Hal ini karena pada saat anak berbaring di tempat tidur, sumbatan pada hidung dan sinus mengalir ke tenggorokan dan menimbulkan iritasi. Keadaan ini umumnya tidak mengkhawatirkan kecuali bila sampai mengganggu tidur si anak.

Asma juga dapat mencetuskan batuk malam hari karena jalan napas kita cenderung lebih sensitif dan menjadi lebih mudah teriritasi pada malam hari.

•    Batuk Siang Hari

Biasanya ditimbulkan oleh alergi, asma, pilek (colds), flu, dan infeksi pernapasan lainnya. Udara dingin atau aktivitas dapat memperberat batuk, dan batuk ini seringkali membaik pada malam hari atau pada saat anak beristirahat. Pada keadaan ini, sebaiknya AC tidak dinyalakan, tidak ada binatang piaraan atau asap, yang menyebabkan anak batuk.

•    Batuk disertai Pilek (Colds)

Kebanyakan pilek (colds) disertai dengan batuk. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika saat anak anda pilek, ia juga mengalami batuk (kering atau berdahak). Batuk ini biasanya berlangsung selama 1 minggu ketika gejala pilek (colds) lainnya telah mereda.

•    Batuk dengan Demam

Jika anak batuk, dengan demam yang tidak tinggi dan hidung beringus, kemungkinannya adalah ia menderita pilek (colds) biasa. Di lain pihak, batuk yang disertai 39 derajat Celcius atau lebih tinggi dimana anak tampak lesu dan napasnya cepat, pikirkan kemungkinan pneumonia. Pada kasus ini, hubungi dokter sesegera mungkin.

•    Batuk dengan Muntah

Batuk yang berat pada anak seringkali merangsang refleks muntah. Biasanya, hal ini tidak membahayakan kecuali jika muntah berkelanjutan. Anak yang batuk dengan pilek (colds)/ flu atau asma, bisa muntah apabila lendir mengalir ke lambung dan menyebabkan mual. Perlu diingat, keadaan ini dapat merupakan hal yang biasa dan tidak berbahaya.

 

 

3 tahun - 4 tahun

20-30

5 tahun - 9 tahun

15-30

10 tahun atau lebih

15-30

Selain menghitung laju napas, anda dapat juga memperhatikan kepala dan dada anak. Bila anak cenderung menengadahkan kepala (ke belakang), hal ini menunjukkan adanya kesulitan napas pada anak. Disamping itu, dapat pula ditemukan cekungan di di bawah leher, di sela iga dan di atas ulu hati yang menunjukkan anak berusaha menggunakan otot bantu napas untuk memudahkannya bernapas. Perhatikan juga adanya napas cuping hidung yang menandakan kesulitan bernapas pada anak.

Penanganan Profesional

Salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis batuk adalah dengan mendengar. Dokter akan menentukan cara penanganannya antara lain berdasarkan bunyi batuknya. Karena sebagian besar penyakit pernapasan disebabkan oleh virus, dokter tidak perlu meresepkan antibiotika pada banyak kasus batuk. Antibiotika tidak digunakan untuk pencegahan. Antibiotika dapat digunakan untuk "mengobati" infeksi bakteri tetapi antibiotika tidak mempunyai efek terhadap virus. Pada common colds, antibiotika tidak diperlukan karena karena antibiotika tidak mempercepat penyembuhan dan tidak mencegah komplikasi. Jika dicurigai pneumonia atau infeksi bakteria lainnya, dokter mungkin akan meresepkan antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat menyebabkan bakteri menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika. Resistensi ini merupakan masalah berat yang mengkhawatirkan seluruh dunia dan dapat menimbulkan penyakit yang serius dan kematian. Untuk mencegah resistensi ini, maka hal-hal yang perlu dilakukan antara lain adalah jangan meminta antibiotika pada dokter jika anda/anak anda mengalami pilek (colds). Di lain pihak, jika anda mendapat antibiotika untuk infeksi bakteri, gunakan sesuai petunjuk dokter; jangan berbagi antibiotika dengan orang lain.

Pada umumnya, obat-obat batuk tidak diperlukan. Obat-obat ini, baik yang diresepkan atau yang dijua! bebas, mungkin mempunyai efek samping yang tidak menyenangkan dan bahkan dapat berbahaya bag! bay! dan anak kecil. Biasanya yang paling baik ialah dengan membiarkan perjalanan penyakitnya, hingga penyakit itu sembuh dengan sendirinya.

Pneumonia, pertusis, RSV, dan kasus croup yang berat, mungkin perlu rawat inap di rumah sakit. Biasanya hal ini diperlukan hanya untuk pemantauan ketat dan untuk memastikan kecukupan asupan cairan. Kadang-kadang, jika anak mengalami kesulitan bernapas, diberikan oksigen.

Penanganan di Rumah

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membuat anak lebih nyaman saat ia sedang batuk. Namun, konsultasi ke dokter tetap diperlukan pada keadaan-keadaan seperti yang telah dijelaskan di atas.

•    Jika anak menderita asma, pastikan bahwa anda telah menerima petunjuk penanganan asma dari dokter anak. Pantau perkembangan anak dengan seksama selama serangan asma dan berikan obat-obat asma sesuai petunjuk dokter.

•     Jika anak -hidungnya tersumbat, bersihkan hidungnya sebelum memberikan makanannya. Untuk membersihkan lendir yang menyumbat hidung dapat digunakan tetes hidung yang mengandung garam fisiologis (NaCI 0,9%) sebanyak 2 tetes pada masing-masing hidung 15- 20 menit sebelum makan. Tetes hidung NaCI 0,9% tidak memiliki efek samping. Jangan gunakan tetes hidung yang mengandung obat lain, karena obat tersebut dapat diserap dalam jumlah yang berlebihan. Cara lain untuk membersihkan lendir yang menyumbat hidung yaitu dengan alat hisap yang terbuat dari karet. Jangan lupa untuk memencet alat tersebut terlebih dahulu, kemudian ujung karet dimasukkan ke satu lubang hidung, lalu perlahan keluarkan dan lepaskan pencetan pada alat tersebut. Cara ini akan mengeluarkan lendir yang menyumbat hidung dan memudahkan anak bernapas kembali. Teknik ini lebih mudah dilakukan pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. Anak yang lebih besar mungkin akan menolak cara ini. Penggunaan garam fisiologis lebih dianjurkan daripada cara ini karena alat hisap tidak mudah didapatkan dan penghisapan yang tidak hati-hati dapat menyakitkan.

•     Jika  anak  anda  mengalami   colds,   beristirahatlah  di  rumah.   Hal  ini akan  membantu penyembuhannya  dan  menghindarkan  penularan  pada  orang  lain.   Ingat,  cuci  tangan merupakan hal yang penting untuk mencegah penularan.

•     Jika anak terbangun pada malam hari dengan batuk seperti menggonggong", bawa anak ke kamar mandi,. tutup pintu, dan putar keran shower air hangat selama beberapa menit hingga memenuhi bathtub. Jika tidak ada shower air hangat, anda dapat memasukkan air panas ke dalam ember dan biarkan ruangan menjadi penuh uap. Duduklah bersama anak di lantai kamar mandi selama sekitar 20 menit. Uap air akan membantu anak bernapas lebih mudah.
Bacakanlah buku cerita supaya anak merasa nyaman.

•    Jaga agar lingkungan tetap lembab (AC justru membuat ruangan menjadi kering).

•    Minuman dingin seperti jus dapat memberi rasa nyaman. Hindari minuman bersoda atau minuman asam karena dapat merangsang saluran cerna.

•    Jangan berikan anak (terutama bayi dan anak kecil) obat-obat batuk yang dijual bebas tanpa petunjuk khusus dari dokter. Kebanyakan obat-obat ini menekan batuk sehingga dapat membahayakan   anak.   Batuk   tidak   boleh   ditekan   karena   batuk   justru   membantu mengeluarkan sekret/kotoran yang kadang-kadang timbul pada penyakit pernapasan. Pada beberapa keadaan, obat-obat ini bahkan menimbulkan efek samping yang berbahaya bila diberikan pada bayi dan anak yang masih sangat kecil. Selain itu, pedoman dosis obat-obat yang dijual bebas untuk anak seringkali berdasarkan pedoman dosis untuk dewasa (bukan diformulasi khusus untuk bayi), jadi obat tersebut mungkin tidak bekerja secara tepat seperti yang diinginkan.

Kesimpulan

Batuk merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada anak. Meskipun kadang-kadang batuk terdengar berat, batuk umumnya tidak berbahaya dan dapat ditangani di rumah. Batuk merupakan suatu refleks tubuh untuk membantu membersihkan jalan napas kita. Ingat, batuk merupakan gejala dan bukan penyakit. Jika anak batuk, harus dipikirkan apa yang menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, kita perlu mengenal jenis-jenis batuk agar kita tahu bagaimana menanganinya dan kapan harus menghubungi dokter.

Tulisan ini disunting dari

·         Coughs, Colds, and Antibiotics. JAMA & ARCHIVES JOURNALS. American Medical Assosiation. http://www.medem.com/medlb/article detaillb.ctm?article ID=ZZZAFHOC8GD&sub cat=277

·          Common colds and Young Children.http://www.aap.org/pubed/ZZZN097VA7Chtm?sub cat= 107

·          Cough and Cold Remedies for The Treatment of Acute Respiratory Infection in Young Children. Department of Child and Adolescent Health and Development. World Health Organization.

·          Dowshen S, Rutherford K. Your Child's Cough. Mayo Clinic.

·          Matondang CS, Wahidiyat I, Sastroasmoro S. Diagnosis Fisik pada Anak. Sagung Seto, Jakarta, 2000; hal 205

Oleh Daulika Yusna + Sps

Jakarta, 6 April 2005

pesat 3: Masalah-Masalah Kesehatan Umum Pada Anak oleh dr Purnamawati S Pujiarto SpAK. MMPed

 

Posted by Alya\'s Mom at 08:25:00 | Permanent Link | Comments (2) |

June 08, 2005

DIARE

dr Purnamawati Sp A (K), MM Ped

 

Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Namun pada anak-anak, diare dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena mereka lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa. Selain itu diare juga merupakan penyebab utama terjadinya malanutrisi pada anak-anak.

 

Keadan-keadaan yang menjadi penyebab utama terjadinya diare adalah higiene yang buruk, sumber air yang tidak bersih dan sehat, lingkungan tempat tinggal yang padat, dan kecenderungan orang tua untuk memberikan susu formula daripada ASI. Padahal anak yang mendapat ASI eksklusif jarang menderita diare.

 

Diare adalah gangguan usus yang ditandai dengan abnormalitas kandungan air dan konsistensi feses yang dikeluarkan. Diare juga berarti buang air besar dengan feses yang cair, minimal 3 kali dalam 24 jam. Diare dapat disebabkan infeksi oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, ataupun parasit. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan, terutama antibiotika, dan pemakaian pemanis buatan.

 

Diare biasanya akan berlangsung dalam 1 minggu (3 sampai 6 hari) dan kemudian akan sembuh dengan sendirinya. Diare kronis berlangsung lebih lama dari diare akut, dan biasanya merupakan petanda terdapat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti infeksi kronis, gangguan absorpsi makanan/nutrien (malaabsorpsi) ataupun disebabkan oleh penyakit yang disebut sebagai Irritable Bowel Syndrome.

 

A. Macam - macam diare

secara klinis diare dibagi menjadi 4 tipe. Pembagian tersebut dengan mudah dapat dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan fisis dan tidak diperlukan pemerksaan laboratorium. Selain itu tiap tipe diare merefleksikan proses patologi dan perubahan fisiologis yang terjadi. 4 tipe tersebuat adalah:

1.       Diare Berair Akut

Termasuk dalam kelompok ini adalah kolera. Berlangsung selama beberapa  jam hingga beberapa hari. Dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan.

2.   Diare Berdarah Akut

Selain menyebabkan dehidrasi, juga menyebabkan kerusakan usus,sepsis,

dan   malnutrisi.

3.   Diare Persisten

Berlangsung selama 14 hari atau lebih. Selain dehidrasi, dapat juga terjadi malanutrisi dan infeksi non-usus.

4.   Diare Dengan Malanutrisi Berat (marasmus dan kwashiorkor)

Selain dehidrasi, keadaan ini dapat menyebabkan infeksi sitemik yang berat, gagal jantung, serta defisiensi mineral dan vitamin.

 

Tata laksana setiap tipe diare terutama bertujuan untuk mencegah dan mengatasi komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi

Diare yang disebabkan oleh infeksi biasanya ditandai dengan gejala awal berupa demam dan muntah, setelah itu baru timbul diare. Biasanya anak akan merasa "tidak nyaman" tap! tidak merasa sakit. Infeksi oleh bakteri ataupun parasit biasanya menyebabkan fesesnya bercampur darah.

 

  1. Penyebab Diare

 

Penyebab paling sering diare antara lain:

•          Virus.

Penyebab paling sering pada anak adalah Rotavirus dan Adenovirus. Biasanya tertular akibat kontak langsung. Misalnya tangan kita menyentuh anak yang sedang sakit diare, lalu tanpa mencuci tangan kita memegang makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut telah mengandung virus yang jika termakan dapat menimbulkan penyakit.

•          Bakteri.

Penyebab paling sering antara Iain Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi bakteri. Beberapa bakteri menghasilkan zat toksin yang menyebabkan sel usus halus memproduksi cairan melebihi kemampuan usus besar untuk menyerap cairan, keadaaan tersebut yang menyebabkan terjadinya diare.

•          Parasit.

Antara Iain Giardia lamblia dan Cryptosporidium. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi parasit.

Laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu atupun produk yang terbuat dari susu juga dapat menyebabkan diare pada beberapa orang (Intoleransi laktosa).

Diare juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan yang dikonsumsi, terutama antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional (misalnya pemberian antibiotika pada infeksi virus) justru dapat mematikan kuman "baik" yang terdapat di dalam usus yang berfungsi dalam proses pencernaan dan menyebabkan suatu keadaan yang disebut sebagai Kolitis Pseudomembranosa, keadaan di mana lapisan mukosa usus besar dilapisi oleh suatu selaput yang menghalangi fungsi usus besar untuk mengabsorpsi cairan.

 

 

C. Diagnosis Diare

Dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai gejala-gejala yang terjadi dan menentukan apakah telah terjadi dehidrasi. Beritahu dokter obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat yang dibeli bebas.

 

Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan perut untuk melokalisasi nyeri yang dirasakan, mendengarkan suara perut (bising usus) dengan menggunakan stetoskop, dan melakukan pemeriksaan melalui anus jika diperlukan. ]ika diarenya berat ataupun telah kronik, biasanya akan dilakukan pemeriksaan feses.

 

D. Tata Laksana Diare

 

Untuk anak yang menderita diare dengan dehidrasi ringan, pemberian makanan maupun susu dapat diteruskan seperti biasa, tapi mungkin dengan jumlah yang lebih sedikit namun dengan frekuensi yang lebih sering. Pemberian ASI harus diteruskan. Jika anak terlihat kembung ataupun sering flatus setelah minum susu sapi ataupun susu formula, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengubah pola makan sementara waktu.

 

Untuk anak dengan diare sedang masih dapat dirawat di rumah dengan observasi ketat, pemberian cairan khusus, dan konsultasi dokter. Dokter akan merekomendasikan jumlah dan lamanya penggunaan cairan khusus yang diperlukan. Nantinya anak dapat kembali memulai pola makannya seperti biasa lagi. Beberapa anak yang sedang menderita diare tidak dapta mentoleransi susu sapi sehingga dokter menganjurkan untuk menghentikan sementara pemberiannya. Pemberian AS! terus diberikan.

 

Berbagai CRO telah dibuat oleh pabrik obat untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit selama terjadinya diare. Cairan tersebut sangat membantu dalam tata laksana diare. Utamakan menggunakan yang generik, karena selain lebih murah, efektivitasnya sama dengan yang paten. Selain itu orang tua dapat membuat sendiri CRO dengan cara mencampurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula kedalam 1 liter air matang.

 

Cara Menyiapkan Cairan Rehidrasi Oral

1.        Cuci tangan sebelum mambuat CRO.

2.       Campurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula atau 1 paket CRO dengan air matang.

3.       Cuci tangan anda dan anak anda sebelum memberikan CRO.

4.       Berikan anak CRO sesuai kebutuhan, sedikit-sedikit namun sering.

5.       Berikan juga cairan pengganti lainnya, seperti ASI dan jus buah.

6.      CRO tidak menghentikan diare, tapi mencegah terjadinya dehidrasi. Diare akan berhenti sesuai perjalanan penyakitnya.

7.       Jika anak muntah, tunggu 10 menit baru berikan CRO, biasanya muntah akan berhenti.

Jika anak tidak muntah, pemberian CRO dapat diberikan hingga frekuensi buang air kecil anak normal kembali.

 

Jika anak mengalarni diare dengan dehidrasi berat, cairan pengganti mungkin diberikan melalui selang infus di ruang gawat darurat selama beberpa jam untuk memperbaiki keadaan dehidrasi. Biasanya tidak diperlukan perawatan di rumah sakit.

 

Pemberian antibiotika tidak akan menyembuhkan diare yang disebabkan oleh virus yang merupakan penyebab tersering terjadinya diare. Pemberian anti diare sebaiknya tidak digunakan karena justru menyebabkan perjalanan penyakit berlangsung lebih lama dan pasien menjadi  carier yang dapat menularkan ke orang lain.

 

Selama penyakit ini berjalan secara alamiah berikut beberapa hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan.

Harus dilakukan:

•         Memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti, berkurangnya frekuensi buang air kecil, tidak ada air mata saat menangis, demam tinggi, mulut kering, berat badan turun, anak terlihat sangat kehausan, lesu tidak bergairah, kelopak mata cekung.

•         Laporkan dokter jika terdapat darah pada fesesnya ataupun demam tinggi (> 39°C).

•         Teruskan pemberian makan seperti biasa jika anak tidak muntah. Namun berikanlah dalam jumlah yang lebih sedikit ataupun berikan makanan yang tidak membuat perut anak merasa tidak enak.

•         Berikan cairan pengganti khusus jika anak haus.

 

Tidak boleh dilakukan:

•         Membuat sendiri cairan pengganti di rumah tanpa panduan yang benar.

•         Tidak memberikan anak makan saat lapar.

•         Memberikan susu yang direbus, ataupun kaldu daging maupun sup yang asin.

•         Memberikan obat-obat "anti-diare".

 

E. Konsultasi Dokter

Orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila anak berusia kurang dari 6 bulan atau memiliki gejala-gejala:

•         Diare berlangsung lebih dari 1  minggu.

•         Terdapat darah pada fesesnya.

•         Muntah yang sering.

•         Nyeri perut.

•         Demam tinggi.

•         Terlihat sangat lemah.

•         Tanda-tanda dehidrasi, seperti:

*         Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 popok/hari).

*         Tidak ada air mata ketika menangis.

*         Tidak mau minum.

*         Mulut kering.

*         Berat badan turun.

*         Terlihat sangat kehausan.

*         Terlihat mengantuk dan tidak responsif.

 

Sedangkan orang tua tidak perlu terburu-buru berkonsultasi dengan DOKTER jika anak terlihat baik-baik saja meskipun disertai dengan gejala-gejala:

•         Frekuensi buang air besar yang sering ddan dengan feses yang banyak.

•          Sering flatus.

•         Feses berwarna kuning ataupun hijau.

 

F. Pencegahan Diare

 

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, antara lain:

•         ASI eksklusif selama 6 bulan

•         Sumber air bersih dan sanitasi yang baik.

•         Imunisasi campak

•          Mencuci tangan,. terutama sebelum menyentuh makanan
«           Buang air besar di kakus.

•         Gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi untuk membunuh bakteri.

•         Jangan biarkan makanan pada suhu ruangan oleh karena dapat merangsang pertumbuhan bakteri.

•         Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.

 

Posted by Alya\'s Mom at 12:28:00 | Permanent Link | Comments (0) |

April 12, 2005

JUALAN INFO TERMOMETER

JANGAN MENGUKUR SUHU TUBUH ANAK DENGAN MENGANDALKAN TANGAN, GUNAKAN TERMOMETER. MENGAPA ?

....karena perabaan tangan terkadang tidak akurat. Suhu tubuh bisa meningkat bila suhu udara di luar tinggi atau ketika anak sedang bermain dg aktivitas yg tinggi. Sebaliknya, anak yg tengah mengalami dehidrasi akan teraba dingin meski suhu di dalam tubuh meningkat.

 

Macam-macam termometer :

  1. Termometer kaca dg merkuri: sangat akurat & tdk mahal, namun mencemari lingkungan bila termometer pecah. PEMAKAIAN TERMOMETER INI TDK DIANJURKAN LAGI
  2. Termometer digital : digunakan di mulut (dianjurkan utk anak > 4 th, karena lebih dpt diajak bekerja sama & tdk akan memberontak saat diukur), dimasukkan melalui anus (secara rektal) atau di ketiak. Pemakaian dengan termometer ini akurat dan aman.
  3. Termometer utk liang telinga : pemakaiannya mudah & cepat tp tdk dianjurkan untuk bayi < 3 bulan.
  4. Termometer flexible untuk ditempelkan di dahi : berbentuk lempengan plastik dan tidak akurat dalam mengukur suhu tubuh secara tepat.

 

APAPUN JENIS TERMOMETERNYA JANGAN UKUR SUHU TUBUH SEGERA SETELAH MANDI KARENA MEMPENGARUHI HASIL PENGUKURAN

 

Mengukur temperatur melalui anus (rektal):

1.       Lumasi ujung termometer dg jelly pelicin yg larut air (jangan gunakan petroleum jelly)

2.       Baringkan anak di pangkuan anda, atau di atas tempat yg rata, dan agak keras.

3.       Satu tangan memegang bagian bawah pantat anak agar tdk bergerak2. Tangan yg lain, memasukkan termometer melalui anus sejauh 1-2 cm, namun bila terasa ada tahanan, jangan masukkan > 1 cm.

4.       Termometer dikepit di antara 2 jari saat bagian tangan Anda yg lain memegang pantat anak. Tenangkan si anak dg mengajaknya bicara sambil Anda memegang termometer tsb.

5.       Tunggu sampai terdengar nada beep dan bacalah angka yg tertera.

Mengukur temperatur melalui mulut (oral):

1.       Bila anak baru saja minum/makan, tunggu 20-30 menit sebelum mengukur temperatur di dalam rongga mulut.

2.       Pastikan tidak ada makanan, permen dll di dalam mulut anak Anda.

3.       Letakkan ujung termometer di bawah lidah, minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer. Ingatkan dia utk tdk menggigit termometer/berbicara saat termometer di dalam mulutnya. Minta pula si anak untuk rileks dan bernapas biassa melalui hidung.

4.       Setelah nada beep dan bacalah angka yg tertera.

 

Mengukur temperatur di ketiak:

1.       Buka baju anak, termasuk baju di dalamnya. Ini perlu karena termometer harus menyentuh kulit, bukan baju.

2.       Taruh termometer di ketiak, lipat tangan anak, sorongkan ke dada sehingga termometer terjepit.

3.       Tunggu sampai terdengar nada beep dan bacalah angka yg tertera.

Jangan lupa membaca tgl saat pengukuran dilakukan.

 

Disarikan dari makalah PESAT 3 (artikel dari Republika, 16/5/2004, 

dr. Purnamawati, Sp Ak,MMPed)

 

Posted by Alya\'s Mom at 04:45:00 | Permanent Link | Comments (0) |

March 20, 2005

MENGAPA ANAK MENGALAMI KESULITAN BELAJAR BICARA ?

Dalam periode 24 tahun (Tahun 1971 sampai dengan 1995) Dr. James MacDonnald bekerja di Ohio State University, mendalami masalah Keterlambatan Bicara pada Anak. Sebagai seorang ahli Patologi Bahasa dan Wicara, ia melatih para terapis wicara dan orangtua untuk menjadi 'rekan' bicara dari anak-anak. Intinya, ia ingin mengajarkan orang dewasa untuk tidak mendominasi pembicaraan dan menjadikan anak sebagai 'obyek' dalam suatu pembicaraan. Sejak pensiun di tahun 1995, Jim mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk memimpin "Communicating Partners Center". Ia telah membuat banyak tulisan mengenai Keterlambatan Bicara, sekaligus juga membuka forum diskusi "Communicating" di internet.

Di bawah ini adalah salah satu tulisannya yang merupakan analisa / hasil penelitian atas ribuan anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan verbal /bicara-nya. Yang penting untuk diingat dalam membaca tulisan-tulisan Jim adalah bahwa komunikasi berarti kemampuan bicara DAN mendengar yang berlangsung DUA ARAH.


========================================================

Mengapa Anak Mengalami Kesulitan dalam Belajar Berbicara

========================================================


Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak masalah yang kami temui:


KETERBATASAN dalam PENDENGARAN
Seringkali ditemui kondisi medis sementara maupun kerusakan permanen dalam pendengaran anak

 

PERKEMBANGAN OTOT yang LAMBAT
Beberapa anak mengalami kesulitan melakukan gerakan mulut/rahang cepat untuk mengkombinasikan dan mengkoordinasikan apa yang ingin mereka katakan dengan suara & bahasa yang harus mulut mereka hasilkan

 

KELAMBANAN dalam MENGERTI BAHASA ORANG DEWASA

Tidak mudah bagi anak untuk memproses panjang (dan cepat)-nya informasi yang di-'ekspos' oleh orang dewasa melalui bahasa 'rumit' yang mereka pakai

 

SEDIKITNYA LATIHAN DALAM BERINTERAKSI dengan ORANG LAIN
Anak kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain guna melatih kemampuan komunikasi mereka

 

PERAN yang TERLALU PASIF dalam KEHIDUPAN SOSIAL
Kebanyakan anak lebih sering ditempatkan dalam posisi "menerima" dan tidak "memberi" dalam hubungannya dengan orang lain. Hal ini mengakibatkan tidak terbiasanya mereka berpartisipasi secara aktif; hal yang dibutuhkan dalam perkembangan bicara mereka

 

CARA KOMUNIKASI "KUNO" SUDAH TERLALU NYAMAN DIPAKAI
Beberapa anak, khususnya dalam hubungan di dalam keluarganya, terbiasa dengan nyaman berkomunikasi menggunakan gerakan, bahasa tubuh maupun bunyi-bunyian saja. Hal ini boleh jadi merupakan cara komunikasi yang efektif di dalam rumah, namun tidak dalam lingkup masyaarakat, di mana anak butuh menggunakan bahasa secara verbal sampai ke tingkat kata-kata yang rumit

 

ORANG DEWASA TIDAK MENGANGGAP ANAK MAMPU
Banyak orang dewasa tidak melibatkan anak dalam berkomunikasi, karena memiliki pemikiran bahwa anak tersebut belum mampu berpartisipasi aktif ataupun mengerti pembicaraan yang berlangsung.

 

ORANG DEWASA BICARA ATAS NAMA MEREKA
Seringkali orang dewasa bicara atas nama anak, sehingga mereka kelihatan tidak berbicara

 

TIDAK CUKUP WAKTU untuk BERBICARA
Sering terjadi bahwa dalam suatu proses komunikasi, orang dewasa tidak menunggu cukup lama guna memberi kesempatan pada anak untuk merespon. Kebanyakan anak bersikap pasif dalam berkomunikasi, sepertinya mereka mengerti bahwa mereka tidak akan diberi kesempatan untuk bicara.

 

TERLALU BANYAK RANGSANGAN
Sekalipun untuk niat dan tujuan yang baik, seringkali anak di'jejali' dengan terlalu banyak bahasa, sehingga mereka kewalahan. Rasanya seperti anak yang sedang belajar menangkap bola, lalu dilempari beberapa bola sekaligus.

 

TERLALU BANYAK BAHASA "SEKOLAH"; KURANG BAHASA yang "KOMUNIKATIF"
Kebanyakan anak pada awal usianya diajarkan bahasa yang mencakup 'warna', 'angka', yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. Anak membutuhkan rangsangan bahasa yang sifatnya praktis; mencakup kosa kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan melatih kemampuan berbahasanya melalui kehidupan sehari-hari.

 

TERLALU BANYAK BAHASA "PERTUJUKAN"; KURANG "OBROLAN" SOSIAL
Kebanyakan anak menggunakan bahasa untuk menunjukkan kemampuannya meniru sesuatu kepada orang dewasa; apakah itu sajak pendek, syair lagu, mengulang cerita yang didongengkan kepada mereka, dll. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan untuk 'ngobrol' dan bertanya jawab secara santai, sehingga terbangun hubungan 'pertemanan' dengan orang yang berkomunikasi dengan mereka.

 

TERLALU BANYAK BERMAIN SENDIRIAN
Tentunya anak belajar banyak melalui permainannya dengan boneka, robot atau mainan lainnya. Namun untuk melatih kemampuannya berkomunikasi, ia akan membutuhkan juga manusia yang melakukan pembicaraan timbal balik sesuai dengan kemampuan si anak.

 

Disadur bebas; HS(9/03)

 

(sumber: artikel milis sehat)

Posted by Alya\'s Mom at 08:48:00 | Permanent Link | Comments (1) |